JAKARTA - Pemerintah dinilai memiliki kepentingan dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar yang akan digelar di Bali pada 15-17 Mei 2016. Pasalnya, Munaslub yang salah satunya mengagendakan pemilihan ketua umum menentukan hubungan antara Golkar dan pemerintah, khususnya dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke depan. Pengamat politik Hendri Satrio mengungkapkan analisanya tentang hal tersebut. Dia yakin Presiden Jokowi mengharapkan sosok pemimpin Golkar yang bisa diajak untuk bekerja sama. Berdasarkan analisanya, dia yakin Jokowi lebih menyukai mantan Ketua DPR Setya Novanto dan Ketua DPR Ade Komarudin dibandingkan dengan enam calon ketua umum lainnya. "Istana juga katanya suka kalau Setnov (Setya Novanto) yang jadi karena mudah dipegang, ini dugaan-dugaan saja ya. Kemudian pak Akom (Ade Komarudin), yang katanya santun, cerdas Pak Jokowi juga katanya suka," kata Hendri dalam acara diskusi bertajuk Jalan Panjang Rekonsiliasi Golkar di Restoran Dua Nyonya, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (8/5/2016).Sebagai kepala pemerintahan, Jokowi dinilainya memiliki kepentingan terhadap Munaslub Golkar. Menurut dia, Jokowi pasti menginginkan kerja sama yang panjang dengan Golkar termasuk untuk kepentingan Pemilu 2019 mendatang.Menurut Hendri, penentuan ketua umum Golkar tidak hanya berada di tangan pemilik suara, yakni DPD Partai Golkar tingkat I dan II, melainkan dukungan pemerintah terhadap calon."Karena hasil Golkar ini menjadi penting, karena jalan panjang pada 2019, karena bisa jadi Jokowi juga menginginkan (menjadi presiden) dua periode," tuturnya.Adapun untuk calon lainnya, Hendri mengaku masih sulit melihat kepentingan mereka. Kendati demikian, seluruh calon memiliki peluang yang sama walau mempunyai pemdukung yang berbeda.
Dua Calon Ketum Golkar Ini Dinilai Disukai Pemerintah
JAKARTA - Pemerintah dinilai memiliki kepentingan dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar yang akan digelar di Bali pada 15-17 Mei 2016. Pasalnya, Munaslub yang salah satunya mengagendakan pemilihan ketua umum menentukan hubungan antara Golkar dan pemerintah, khususnya dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke depan. Pengamat politik Hendri Satrio mengungkapkan analisanya tentang hal tersebut. Dia yakin Presiden Jokowi mengharapkan sosok pemimpin Golkar yang bisa diajak untuk bekerja sama. Berdasarkan analisanya, dia yakin Jokowi lebih menyukai mantan Ketua DPR Setya Novanto dan Ketua DPR Ade Komarudin dibandingkan dengan enam calon ketua umum lainnya. "Istana juga katanya suka kalau Setnov (Setya Novanto) yang jadi karena mudah dipegang, ini dugaan-dugaan saja ya. Kemudian pak Akom (Ade Komarudin), yang katanya santun, cerdas Pak Jokowi juga katanya suka," kata Hendri dalam acara diskusi bertajuk Jalan Panjang Rekonsiliasi Golkar di Restoran Dua Nyonya, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (8/5/2016).Sebagai kepala pemerintahan, Jokowi dinilainya memiliki kepentingan terhadap Munaslub Golkar. Menurut dia, Jokowi pasti menginginkan kerja sama yang panjang dengan Golkar termasuk untuk kepentingan Pemilu 2019 mendatang.Menurut Hendri, penentuan ketua umum Golkar tidak hanya berada di tangan pemilik suara, yakni DPD Partai Golkar tingkat I dan II, melainkan dukungan pemerintah terhadap calon."Karena hasil Golkar ini menjadi penting, karena jalan panjang pada 2019, karena bisa jadi Jokowi juga menginginkan (menjadi presiden) dua periode," tuturnya.Adapun untuk calon lainnya, Hendri mengaku masih sulit melihat kepentingan mereka. Kendati demikian, seluruh calon memiliki peluang yang sama walau mempunyai pemdukung yang berbeda.